Selasa, 17 Mei 2011

Manusia Dunia

Memang aneh kedengarannya istilah "manusia Dunia". Hal itu Wajar
Karena kita tidak bisa dengan istilah tersebut sehingga istilah itu tidak melembaga di dalam benak pikiran kita. Seharusnya, kita mendengarkan istilah"Dunia manusia"? Tetapi baiklah, saya berikan gambaran mengenai pengertian istilah manusia dunia ini. Sebagaimana sudah saya katakan bahwa istilah dunia manusia adalah istilah yang berlebih-lebihan, gaya bahasa pleonasme yang mubazir.

Dunia tidak mungkin menciptakan manusia, tetapi manusialah yang membuat dunia-dengan izin Allah-manusia Yang merefleksikan sistem akal kalbu dan nafsunya dalam bentuk dunia, Di dalam dunia itu terkandung sepak terjang manusia dan budaya manusia. Di sini kita melihat bahwa manusia menjadi subjek manusia karena menciptakan dunia, dan bukan dunia yang membuat manusia.

Inilah fitrah manusia sebagai khalifah sehingga apabila posisi manusia menjadi terbalik, manusia kemudian menjadi terbius oleh dunianya maka sadarlah bahwa manusia itu telah menghinakan dirinya sendiri. Manusia merefleksikan karakternya dalam dunia itu sehingga kita bisa melihat dirinya dari dunianya. Kalu kita melihat manusia sakit  maka yang kita ketahui bahwa manusia itu sedang merefleksikan sakitnya. Begitupun manusia alim merefleksikan jiwanya di dunia dengan kealiman, sedangkan manusia sombong merefleksikan jiwanya dengan kesombongan.

Istilah dunia manusia-di samping tidak tepat-juga menyatakan fakta sebenarnya
di mana banyak manusia yang dibentuk oleh dunia. karena kita sudah bisa mendengar istilah ini, apakah hal tersebut bukan satu informasi bahwa ada peralihan posisi yang hakiki antara manusia sebagai subjek, digeser oleh dunianya? Kehancuran manusia karena manusia tidak mampu lagi merefleksikan karakternya yang fundamental, yaitu "kalbu". manusia tidak lagi menjadi merdeka apabila dia sudah dibentuk oleh dunianya. Lihatlah binatang, adakah binatang itu mampu merefleksikan dirinya?

Membentuk atau mengubah bumi menjadi dunia? Inilah dikarenakan binatang bukanlah subjek, tetapi bagian dari bumi itu sendiri, sehingga yang melekat pada fitrah binatang itu adalah "hanyut" mengikuti irama bumi. Binatang tidak pernah akan bisa menyatakan dirinya, merefleksikan jiwanya, dan dia tidak pernah mampuh berpikir kritis, sehingga binatang tidak mungkin bisa mengambil keputusan. 

Binatang adalah bagian dari bumi dan pasti jatuh ke bumi. Maka pada diri binatang (sebagai bagian bumi), dilengkapi postur biologis yang setandar, monoton, dan memiliki posibilitas terbatas. Karena bagian dari bumi maka binatang yang ada di kutub, pastilah memiliki bulu yang tebal, sedangkan di tempat tropis ber bulu sedang. Inilihah bagian dari alam ,mengikuti irama bumi. Binatang tidak mungkin mampu "mennundukan dan mengatur" bumi menjadi dunia. Dengan pemahaman ini, mengertilah kita bahwasanya menjadi tempat kita mengistilahkan "manusia dunia". karena manusia adalah subjek, manusia membuat dunia, manusia mennundukkan, mengambil keputusan, dan mengatur bumi menjadi dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar